Makna Tersembunyi dari kata HELLO & GOODBYE

HELLO GOODBYE

(diambil dari Rubrik CATCIL majalah Annida edisi Juni 2009)

 * * * *

Seberapa sering kita mengatakan, “HELLO” dan untuk keperluan apa kita berucap, “GOODBYE”? Hello (halo) dan goodbye (selamat tinggal) memang dua kata yang kontradiktif. Yang satu dipakai untuk menyatakan sapaan saat pertemuan, sementara yang lainnya adalah ungkapan perpisahan. Bagaimana jika kedua kata itu digabung? Hasilnya pasti membingungkan. Bertemu-berpisah.

hello & goodbyeNamun, bukankah memang begitu tabi’at kehidupan ini; bahwa kita tak pernah merasa kehilangan karena perpisahan, jika sebelumnya kita tak pernah merasa dekat karena pertemuan? Jadi, ini memang persoalan sisi mata uang: kita akan selalu mendapatkan salah satu dari kedua sisinya, tak mungkin kedua-duanya. Jika kita berkata “HALO” karena kita bertemu, pasti sesudah itu kita akan bilang “SELAMAT TINGGAL” karena –untuk alasan yang tak bisa dihindari- memang sudah waktunya kita pergi ke tempat tujuan masing-masing. Bertemu lalu berpisah.

Persoalannya kemudian, apakah perpisahan kita dapat menjadi alasan pertemuan kembali, sebagaimana pertemuan yang menjadi penyebab perpisahan? Ada sebagian kita yang mendapati pertemuannya adalah perpisahan. Artinya, pertemuan itu sama sekali tak menghasilkan apa-apa selain rasa ingin cepat-cepat meninggalkan satu sama lain.

Pertemuan yang menghasilkan perpisahan adalah pertemuan antara sebiji benih atau sebatang tanaman dengan sebidang tanah yang subur. Pertemuan mereka menghasilkan pergerakan dan pertumbuhan yang terus menerus. Benih atau batang harus berpisah dengan tanah semata-mata karena pertemuan merekalah yang mengharuskannya. Tanpa perpisahan, benih akan selamanya menjadi benih. Tak ada hasil yang bisa diharapkan berupa batang yang bergerak, tumbuh tegak, besar, tinggi, dan pada akhirnya kelak menghasilkan buah yang bermanfaat bagi makhluk lain.

Lihatlah, meskipun benih atau batang pada mulanya mengatakan “HELLO” kepada tanah, tetapi “GOODBYE” yang mereka ucapkan dilakukan benar-benar untuk keperluan yang menjadi alasan eksistensi mereka: kebermanfaatan. Tanah dan benih selalu merasa bertemu dalam keberpisahan mereka, karena mereka telah saling mengisi. Tanah memberi substansi kepada benih yang terus tumbuh menjadi tanaman bunga atau buah, sebagaimana benih memberi hakikat kepada tanah untuk keberadaan fungsi dan manfaatnya. Tanah tetap di tempatnya, di dunianya, semenatara benih yang ditumbuhkannya telah pergi ke tempat-tempa yang jauh sebagai buah, sayuran, bunga atau kayu. Mereka berpisah semata-mata untuk memberi nilai-kebutuhan bagi hidup manusia. Lihatlah, betapa sulitnya hidup manusia jika tanah dan benih tetap dalam pertemuannya, tanpa boleh berpisah (dipetik dan dipanen).

Maka, dalam kerumitan hidup makhluk lain, tanah dan benih bertemu dan berpisah semata-mata karena fungsi dan peran mereka. Mereka bertemu pertama kali untuk saling memberi hakikat dan eksistensi, sampai mereka berpisah karena alasan kebermanfaatan, dan kelak mereka akan bertemu kembali, entah sebagai sampah yang terkuburkan atau mungkin sebagai jasad renik yang hancur dan menyatu menjadi pupuk.

Muhammad Yulius

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s